Meski Diguyur Hujan, Ibu- Ibu Dan Jamaah Lain Tetap Ikuti Pengajian Tarjih Muhammadiyah
Rolasan.id Klaten. — Antusiasme jamaah dalam mengikuti Pengajian Tarjih Muhammadiyah di masjid Agung Al- Aqsha Klaten tetap tinggi dan membludag meskipun diguyur hujan sejak usai sholat Jumat ( 23/1/2026 ).
Fenomena ini menunjukkan tingginya komitmen warga Muhammadiyah dan Aisyiyah dalam menuntut ilmu agama.
Beberapa poin terkait antusiasme ini antara lain istiqamah dalam Menuntut Ilmu.
“Hujan deras tidak menyurutkan langkah jamaah, seperti yang terjadi pada pengajian tarjih dimana tidak kurang dari 7.500 jamaah tetap hadir meskipun hujan turun.
Dalam beberapa kesempatan, meskipun hujan deras mengguyur di tengah acara, pengunjung pengajian tetap bertahan di lokasi untuk mengikuti kajian hingga selesai.” kata Ketua Majelis Pustaka dan Informasi ( MPI ) PDM Klaten Drs.H. Sunarto, M,Hum saat monitor siaran live streeming pengajian tersebut.
Pengajian tarjih yang dipadati ribuan jemaah meskipun hujan deras, menunjukkan semangat “istiqomah” (konsisten) yang tinggi.
Pengajian Tarjih yang diselenggarakan oleh Majelis Tarjih PDM Klaten dipadati oleh sekitar 7.500 warga Muhammadiyah dan Aisyiyah.
Semangat ini sering dimaknai sebagai wujud syukur dan tekad untuk terus memperkokoh pemahaman agama sesuai manhaj Tarjih Muhammadiyah, meskipun harus menghadapi rintangan cuaca hujan.
Suasana penuh kehangatan dan semangat kebersamaan mewarnai Pengajian tarjih Muhammadiyah yang laksanakan di PCM Klaten Tengah yang digelar pada Jumat, 23 Januari 2026 bertempat di masjid Agung Al Aqsha Klaten.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh PCM Klaten Tengah ini berlangsung khidmat meskipun sepanjang hari hujan dan menjadi anugerah tersendiri karena sebelumnya wilayah Klaten dan sekitarnya beberapa hari terakhir juga sering diguyur hujan.
Pengajian menghadirkan narasumber Ust. Arif Munandar, Lc dan Ustd Naschan Fahrurazi yang menyampaikan materi tentang kaifiyat wudhu dan soal ziarah kubur.
Ustadz Naschan Fahrurazi menjelaskan tata cara ziarah kubur menurut Muhammadiyah berfokus pada meluruskan niat untuk mendoakan ahli kubur dan mengingat kematian, dengan adab seperti mengucapkan salam, melepas alas kaki (jika aman), menghadap kiblat saat berdoa, dan tidak menduduki kuburan, serta melarang keras meminta-minta atau menjadikan kuburan sebagai wasilah kepada Allah.
“Amalan sunah yang dianjurkan termasuk diantaranya berdoa dengan bacaan seperti Al-Fatihah, surat-surat pendek, dan memohon ampunan.” katanya.
Tata cara ziarah kubur menurut Naschan dimulai dengan
niat yang benar.
“Niatkan untuk mendoakan mayit dan mengingat mati, bukan untuk meminta-minta kepada ahli kubur.” ujarnya.
Menurutnya dianjurkan berwudhu sebelum berziarah, kemudian mengucapkan salam saat tiba di makam, dengan mengucapkan salam kepada penghuni kubur “Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh, ya Ahlal Qubur” atau “Assalamualaikum Darin Mukminin”.
Adab ziarah kubur dengan melepaskan sandal atau sepatu saat berjalan di area makam jika aman, mengikuti sunah Rasul.
“Menghadap kiblat saat berdoa, posisikan diri menghadap kiblat, bukan langsung menghadap nisan.
Panjatkan doa untuk mayit. Dianjurkan membaca Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, atau surat-surat pendek lainnya, serta doa-doa yang diajarkan” katanya.
Adab lainnya dikatakan tidak duduk/injak kuburan.
“Dilarang keras duduk atau menginjak kuburan.
Hindari tangisan histeris atau perilaku berlebihan dan jangan meminta sesuatu kepada ahli kubur atau menjadikannya wasilah (perantara) kepada Allah.” kata Naschan.
Kuburan kata Naschan juga tidak boleh dijadikan masjid atau tempat ibadah khusus.
(moch isnaini/red)

