Tradisi Yaqowiyu Menginspirasi Terwujudnya Desa Sadar Kerukunan Berbasis Budaya

Rolasan.id Klaten. — Camat Jatinom Kabupaten Klaten  Wahyuni Sri Rahayu menyampaikan bahwa dalam waktu dekat pihaknya akan segera mewujudkan adanya Desa sadar kerukunan berbasis budaya di kecamatan Jatinom.

Hal itu disampaikan Wahyuni saat menerima kunjungan  pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama ( FKUB ) Kabupaten Klaten Kamis ( 23/2/2023) kemarin di aula kantor kecamtan setempat. Menurutnya di Jatinom sudah sejak lama dikenal sebagai daerah yang sarat dengan budaya.

“Perayaan tradisi Yaqowiyu yang  merupakan  kegiatan yang diadakan setiap bulan Sapar di Jatinom, Klaten setiap tahun memberikan inspirasi pentingnya mewujudkan Desa sadar kerukunan berbasis budaya” katanya.

Kegiatan yang sarat dengan budaya itu menurutnya memiliki  ciri khas dengan penyebaran kue apem yang terbuat dari tepung beras. “Tradisi ini sebenarnya berawal dari Ki Ageng Gribig yang pulang setelah menunaikan ibadah haji di kota Mekkah. Setelah itu, Ki Ageng Gribig mengamanatkan untuk mengadakan tradisi ini setiap tahunnya.” Jelasnya

Asal-usul Tradisi Yaqowiyu
Yaqowiyu sendiri menurut Wahyuni merupakan sebuah tradisi yang kali pertama diperkenalkan oleh Ki Ageng Gribig. “Ki Ageng Gribig adalah ulama besar di daerah Klaten dan sekitarnya yang berperan besar dalam menyebarkan Islam.” katanya.

Dikatakan Ki Ageng Gribig saat  membawa oleh-oleh berupa kue apem dan akan dibagikan kepada saudara, murid, dan tetangganya, namun, oleh-oleh yang dibawa Ki Ageng Gribig tidak cukup, ia kemudian meminta keluarganya untuk membuat kue apem untuk dibagikan.

“Sejak 1589 Masehi atau 1511 Saka, Ki Ageng Gribig selalu membagi-bagikan apem kepada orang-orang di sekitarnya, dan mulai saat itulah, Ki Ageng Gribig mengamanatkan kepada masyarakat Jatinom, Klaten, untuk memasak sesuatu sebagai sedekah kepada masyarakat yang membutuhkan.” pungkasnya.

Ketua FKUB Kabupaten Klaten KH.Syamsuddin Asyrofi menyampaikan bahwa Yaqowiyu diambil dari bagian akhir doa memohon kekuatan dalam bahasa Arab, yakni yaa qowiyyu, yaa aziz, qowwina wal muslimiin, yaa qowiyyu warzuqna wal muslimiin. 

“Penggunaan kue apem dalam tradisi ini memiliki maksud tersendiri. Kue Apem diambil dari kata bahasa Arab, yakni affum. Kata affum  memiliki makna maaf. Oleh sebab itu, makanan yang dibagikan dalam tradisi ini kemudian disebut dengan apem Yaqowiyu.” katanya.

Tradisi Yaqowiyu yang dilakukan setiap bulan Sapar dalam penanggalan Jawa setiap tahunnya, biasanya, ribuan kue apem akan disebarkan dari panggung permanen di selatan masjid yang berada  tidak jauh dari  kompleks pemakaman Ki Ageng Gribig.

Masyarakat kemudian ada yang percaya bahwa kue apem Yaqowiyu dapat membawa kesejahteraan bagi mereka yang mendapatkannya dan oleh karenanya kue apem yang disebar menjadi ajang rebutan.

“Seiring berjalannya waktu, tradisi ini kemudian menjadi festival unggulan di kota bersinar ini. Bahkan, masyarakat di daerah sekitarnya, seperti Boyolali, Solo, Sragen, hingga Yogyakarta datang ke Klaten untuk ikut festival atau tradisi Yaqowiyu ini” Ungkap Syamsuddin Asyrofi.
( ist/ fat)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous post Menjalin Sinergitas, TNI Dan Polri Gelar Olahraga Bersama
Next post Rayakan 39 Tahun, RSCH Tingkatkan Pelayanan Kesehatan Akan Bangun Gedung Lima Lantai