28 Kelompok Gejog Lesung Tampilkan “Lesung Jumengglung” di Festival Tahunan Barepan Cawas

Rolasan.id Klaten – Dalam rangka memeriahkan hari jadi Kabupaten Klaten ke-222 dan menyongsong HUT RI ke-81, Pemerintah Kabupaten Klaten kembali menyelenggarakan Festival Gejog Lesung Tahun 2026. Acara digelar di Lapangan Desa Barepan, Kecamatan Cawas, Sabtu sore (18/7/2026).
Festival ini diikuti 28 kelompok kesenian Gejog Lesung. Rinciannya, perwakilan dari 26 kecamatan se-Kabupaten Klaten, ditambah dua desa dari Kecamatan Cawas yaitu Desa Barepan dan Desa Pakisan.
Setiap kelompok membawakan dua lagu. Lagu wajib “Lesung Jumengglung” dan satu lagu bebas sesuai kreativitas masing-masing. Satu kelompok maksimal beranggotakan 15 orang. Jika melebihi, akan mengurangi poin penilaian.
Camat Cawas Joko Purwanto menyampaikan, festival ini digelar dalam rangka menyambut Hari Jadi ke-222 Kabupaten Klaten pada 28 Juli dan Hari Kemerdekaan RI ke-81.
“Festival Gejog Lesung ini sudah menjadi event tahunan yang rutin diselenggarakan Pemkab Klaten di Desa Barepan, Kecamatan Cawas,” ujar Joko Purwanto.
Ia menjelaskan, Desa Barepan dipilih karena merupakan cikal bakal lahirnya kesenian tradisional Gejog Lesung. Kesenian ini juga sudah didaftarkan ke Direktorat Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum sebagai kesenian tradisional khas Desa Barepan.
“Festival ini juga untuk nguri-uri seni dan budaya tradisional masyarakat agraris. Gejog Lesung lahir saat petani menumbuk padi sehabis panen. Perpaduan suara ketukan alu dan lesung membentuk nada merdu untuk mengiringi nyanyian,” jelasnya.
Kepala Desa Barepan Irmawan Andriyanto mengucapkan terima kasih kepada Pemkab Klaten yang secara rutin menyelenggarakan festival di desanya.
“Desa Barepan sebagai desa tempat lahirnya seni Gejog Lesung ikut merasa gembira dan bangga. Seni Gejog Lesung sudah terangkat dan dilestarikan sebagian besar warga Kabupaten Klaten,” kata Irmawan.
“Dengan adanya event ini, dampak ekonomi juga akan berimbas pada UMKM warga Desa Barepan,” pungkasnya.
Festival Gejog Lesung diharapkan tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga memperkuat identitas Klaten sebagai daerah yang kaya tradisi sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat lokal.
(fat)