Harga Gabah Tinggi Dan Rendemen Turun, Jadi Penyebab Harga Beras Masih Tinggi

Rolasan.id Klaten – Harga beras yang masih tinggi di pasaran dipicu oleh melambungnya harga gabah di tingkat petani. Saat ini harga Gabah Kering Panen (GKP) di Klaten bahkan tidak ada yang di bawah Rp7.000/kg.
Hal itu disampaikan Sekretaris Perpadi Pusat Riyanto Joko Nugroho saat ditemui di penggilingan padi miliknya “CV Sekar Putri” Desa Karanganom, Klaten Utara, Selasa (7/7/2026).
“Secara rutin saat ini petani sudah masuk masa tanam (MT) dua. Harapannya harga baik. Tapi persoalannya harga gabah itu tinggi sekali. Saat ini tidak ada GKP di bawah tujuh ribu. Harganya mulai dari Rp7.600 hingga Rp8.000,” ujarnya.
Joko menyebut ada beberapa faktor yang membuat harga beras sulit turun. Salah satunya adalah penyerapan gabah oleh Bulog yang mencapai 4 hingga 6 juta ton.
“Karena Bulog menyerap gabah 4 sampai 6 juta ton, justru harga gabah tidak semakin baik, malah semakin tinggi. Karena yang memperebutkan banyak, baik Bulog maupun pasar umum. Pasar umum kalah karena rata-rata dengan harga maklon dikasih jasa Rp800 hingga Rp1.000. Otomatis ke kita jadi tinggi,” jelasnya.
Faktor lain adalah kualitas gabah yang menurun. Rendemen gabah turun 3 hingga 5 persen karena pengaruh cuaca dan pemupukan.
“Rendemennya kurang bagus, turun antara 3 sampai 5 persen. Karena namanya gabah, juga menyangkut alam, faktor cuaca, faktor pemupukan. Di MT dua ini banyak faktor. Karena rendemen tidak baik, proses pengeringan juga memerlukan biaya, maka harganya pasti naik,” katanya.
Selain itu, Joko juga menyoroti penyaluran bantuan pangan (Bapang) yang tidak rutin. Menurutnya masyarakat berharap ada bantuan seperti Raskin dulu yang pasti diberikan setiap awal bulan.
“Bapang itu tidak rutin. Kadang 2 atau 3 bulan diberikan satu kali langsung rapel. Begitu pemerintah menggelontorkan bapang yang belum pasti kapan, otomatis masyarakat menengah ke bawah yang dapat bantuan sudah beli beras terlebih dahulu,” ungkapnya.
Ia menambahkan, gabah produksi Klaten banyak yang lari keluar daerah. Hal ini terlihat di lapangan saat panen di perbatasan Karangdowo dan Wedi. Truk-truk dari Sragen dan Karanganyar sudah masuk untuk membeli gabah.
“Hal ini sudah kami sampaikan saat audiensi beberapa hari lalu kepada Ketua DPRD Kabupaten Klaten, Dinas Pertanian, dan Dinas Perekonomian. Memang kondisi panenan rendemen turun, kualitas gabah tidak baik. Untuk petani senang, namun gabah produksi Klaten itu lari keluar,” pungkasnya.
(fat)