Pemerintah Kecamatan Gantiwarno Gencarkan Galaksi, Upaya Pencegahan Leptospirosis
Rolasan.id Klaten. ~ Kecamatan Gantiwarno di Klaten menjadi salah satu wilayah dengan kasus Leptospirosis tertinggi pada tahun 2025 di wilayah Kabupaten Klaten mencapai 21 kasus data yang diambil hingga akhir November 2025. Sedangkan pada tahun 2026 hingga awal bulan April ini mengalami penurunan yakni 5 kasus dengan 2 diantaranya meninggal dunia. Penularan terjadi melalui kencing tikus yang mencemari air/tanah, terutama saat aktivitas bertani.
Dengan adanya kasus Leptospirosis yang sebenarnya sudah tidak tinggi lagi, akan tetapi kejadian tersebut hingga ada yang meninggal, dengan adanya hal tersebut, Pemerintah Kecamatan Gantiwarno mengambil langkah langkah untuk mengantisipasi atau menanggulangi penyakit leptospirosis dengan mengadakan kegiatan berupa Gerakan Tolak Leptospirosis (Galaksi).
Hal ini disampaikan oleh Camat Gantiwarno, Veronica Retno Setyaningsih kepada beberapa media saat menghadiri penyuluhan dan sosialisasi pencegahan Leptospirosis di Dukuh Titang, Desa Towangsan, Gantiwarno, Klaten, Jateng, Kamis (9/4/2026).
Menurutnya kasus penyakit Leptospirosis yang di Kecamatan Gantiwarno pada tahun 2025 menjadi yang tertinggi di wilayah Kabupaten Klaten mencapai 21 kasus, namun pada tahun 2026 ini hanya 5 kasus akan tetapi dua diantaranya meninggal dunia, dan ini menjadi perhatian dari Pemerintah Kecamatan Gantiwarno.
“Langkah kami dalam menghadapi penyakit Leptospirosis yakni pada saat rapat koordinasi (rakor) lintas sektoral bidang kesehatan akan mengadakan gerakan tolak leptospirosis (Galaksi), dan salah satu kegiatannya yaitu penyuluhan, gropyokan tikus bersama sama dengan kelompok tani dan pemerintah desa,” jelas Retno.
Selain itu, Retno menambahkan bahwa Pemerintah Kecamatan Gantiwarno atas adanya kasus penyakit leptospirosis ini juga telah melaporkan kejadian seperti ini ke Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten, semoga dengan laporan ini Dinkes segera menindaklanjuti.
“Mudah mudahan dengan laporan kita, semoga Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten segera ditindaklanjuti dengan pemberian alat perangkap tikus, namun yang lebih penting pola hidupnya petani, jika biasanya pergi ke sawah pagi sekali dirubah berangkatnya agak siang, karena bakteri leptospira akan mati apabila terkena panas sinar matahari,” katanya
Lebih lanjut Retno mengatakan selain berangkat ke sawah agak siang, juga saat beraktifitas di sawah diharapkan memakai alat pelindung diri (APD) seperti memakai sepatu boot, pakai kaos tangan, pakai kacamata, hindari cuci muka dan kaki dialiran air di sawah dan sehabis beraktifitas di sawah segera cuci tangan, cuci muka dengan sabun atau langsung mandi.
(fat)
