PDM Klaten Gelar Pentas Wayang Kulit “Suta Sudarma”, Ajarkan Nilai Persatuan dan Kebangsaan

Rolasan.id Klaten – Dalam rangka merawat persatuan dan meneguhkan nilai kebangsaan, Pimpinan Daerah Muhammadiyah PDM Klaten bersama Lembaga Seni Budaya Olahraga LSBO dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah IMM menggelar Pentas Wayang Kulit dengan lakon “Suta Sudarma”.
Pementasan oleh dalang Ki Ageng Alif Adi Candra, S.Pd ini berlangsung pada Minggu, 24 Agustus 2026 di Komplek Masjid Ar-Rohmah PDM Klaten.
Mengusung tema “Merawat Persatuan, Meneguhkan Nilai Kebangsaan Melalui Lestarinya Budaya Bangsa”, kegiatan ini menjadi ruang silaturahmi lintas generasi untuk mengenalkan nilai-nilai luhur wayang sebagai warisan budaya bangsa.
Ketua PDM Klaten Iskak Sulistyo mengatakan wayang memiliki peran penting lebih dari sekadar seni pertunjukan.
“Wayang bukan hanya seni pertunjukan. Di dalamnya ada ajaran tentang kepemimpinan, kejujuran, dan cinta tanah air. Melalui lakon Suta Sudarma, kita belajar tentang kesetiaan dan pengorbanan demi persatuan,” ujar Iskak.
Kegiatan ini mendapat sambutan antusias dari warga Muhammadiyah dan masyarakat sekitar. PDM Klaten berharap pentas wayang kulit dapat terus dilestarikan sebagai upaya membentengi generasi muda dari degradasi budaya.

Lakon Suta Sudarma bersumber dari cerita pewayangan yang mengangkat tema penyucian diri atau ruwatan dengan nafas nilai moral dan kebaikan.
Suta berarti anak atau keturunan. Sudarma berarti perbuatan baik atau dharma yang suci. Secara keseluruhan, lakon ini menggambarkan sosok anak yang menjunjung tinggi kebaikan, keluhuran budi, serta jalan pembersihan diri dari noda atau pengaruh buruk.
Nilai utama yang disampaikan adalah penyucian diri. Cerita ini mengajarkan pentingnya membersihkan diri dari kesalahan, dosa, atau sengkala atau kesialan hidup.
Selain itu, lakon ini juga menekankan pentingnya berbuat kebajikan dan meneguhkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan bermasyarakat.
Dengan mengangkat lakon tersebut, PDM Klaten ingin menegaskan bahwa budaya bangsa bisa menjadi penguat karakter dan perekat kebangsaan di tengah tantangan zaman.
(moch isnaini/red)